Make your own free website on Tripod.com

Kembali

 

KONSEP NEGARA DALAM ISLAM
oleh: Ahmad Sajeed*

Tidak dinyatakannya istilah daulah di dalam teks al-Qur’an mahupun al-Hadis bukan berarti tidak ada perintah untuk mendirikan negara Islam. Sama halnya dengan reformasi yang kini hebat berlaku. Begitu juga dengan istilah demokrasi, restrukturisasi, masyarakat madani, dan lain-lain istilah yang belum popular pada saat negara ini terbangun. Lantas apakah kita dengan mudah mengatakan bahwa reformasi, demokratisasi, dan pembentukan masyarakat madani adalah proses yang inconstitusional?

Jika kita perhatikan teks al-Qur’an mahupun al-Hadis secara teliti, mendalam, dan dengan pemikiran yang cemerlang (al-fikr al-mustanir), kita akan mendapatkan petunjuk -petunjuk yang jelas tentang kewajipan mendirikan negara Islam. Allah swt berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri dari kamu sekalian" (QS an-Nisaa: 59)

Ulil amri di sini berarti pemimpin yang berstatus penguasa, bukan sekadar pemimpin rumah tangga atau pemimpin kelompok. Dalam tinjauan bahasa Arab, jika istilah ulil amri itu dicelahi idiom min (dari/bahagian) menjadi ulil minal amri, maka artinya akan merujuk kepada pemimpin-pemimpin dalam lingkup yang sempit (keluarga, organisasi, pengadilan, dll).

Sedangkan kewajipan pemimpin tersebut untuk hanya menerapkan syariat Islam saja, tidak syariat yang lain, ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, an-Nasai, dan Ibnu Majah yang berasal dari Ubadah bin ash-Shamit:

"Kami membaiat Rasulullah saw untuk mendengar dan mentaatinya dalam keadaan suka mahupun terpaksa, dalam keadaan sempit mahupun lapang, serta dalam hal yang tidak mendahulukan urusan kami (lebih dari urusan agama), juga agar kami tidak merebut kekuasaan dari seorang pemimpin, kecuali (sabda Rasulullah): ‘Kalau kalian melihat kekufuran yang mulai nampak secara terang-terangan (kufran bawaahan), yang dapat dibuktikan berdasarkan keterangan dari Allah’."

Menurut Imam al-Khathabi arti bawaahan dalam Hadis di atas adalah nampak secara nyata atau terang-terangan. Demikian pula dengan riwayat lain yang menggunakan istilah baraahan 1 . Imam Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-kufr dalam Hadis tersebut adalah kemaksiatan2 .

Allah swt berfirman:

"Apakah undang-undang Jahilliyah yang mereka kehendaki, dan (undang-undang) siapakah yanglebih baik daripada (undang-undang) Allah bagi orang-orang yang yakin" (QS al-Maidah: 50)

Abdul Qadim Zallum mengomentari ayat di atas: "Undang-undang Jahilliyah adalah undang-undang yang tidak dibawa oleh Rasulullah saw dari Tuhannya. Undang-undang Jahilliyah adalah undang-undang kufur yang dibuat oleh manusia".3

Pada ayat yang lain Allah swt berfirman:

"Maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan apa yang telah diturunkan Allah. Dan janganlah engkau menuruti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu" (QS al-Maidah: 48)

Perintah untuk memutuskan semua perkara (termasuk urusan kenegaraan) menurut syariat Islam ini tidak hanya ditujukan kepada Rasulullah saw, tetapi juga ditujukan kepada seluruh umatnya kerana tidak ada ayat lain dalam al-Qur’an mahupun al-Hadis yang mentakhsis (mengkhususkan) perintah tersebut hanya untuk Nabi saw.

Dengan demikian jelaslah bahwa Islam menggariskan kewajipan untuk menegakkan kekuasaan yang berlandaskan syariat Islam.

Dalam sastera-sastera klasik memang tidak akan kita jumpai tentang cara bagaimana mendirikan suatu negara Islam. Kitab-kitab tersebut disusun ketika Kekhalifahan Islam masih berdiri dan dalam keadaan jaya sehingga tidak terlintas sedikitpun di benak para penulisnya bahwa suatu saat kekhalifahan itu akan runtuh dan diperlukan kekuatan untuk mendirikannya kembali. Sastera-sastera klasik seperti Ma’afiru al-Inafah fi Ma’alim al-Khilafah karya Imam al-Qasysyandi, al-Ahkaamush Shulthaniyah karya Imam Mawardi, al-Ahkaamush Shulthaniyah karya Abu Ya’la al-Faraa, dan al-Kharaj karya al-Qadli Abu Yusuf, banyak berbicara tentang perjalanan kenegaraan Khilafah Islamiyah dan bukan cara mendirikannya. Tetapi yang jelas, sastera-sastera tersebut menyajikan fakta tentang kewujudan suatu negara Islam.


Negara Islam pertama

Perbincangan tentang apakah "Negara Madinah" itu benar-benar suatu negara atau sekadar institusi kemasyarakatan biasa, lebih berlandaskan pada ketida-jelasan fakta-fakta mengenai apa yang terjadi di Madinah dan di seluruh wilayah kekuasaan Islam pada saat itu.

Ada beberapa definisi tentang negara. Menurut Roger Soltau, negara adalah alat (agency) atau kekuasaan (authority) yang mengatur atau mengendalikan persolan-persoalan bersama atas nama masyarakat. Menurut Harold J. Laski, negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan kerana mempunyai kekuasaan yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih agung daripada individu atau kelompok yang merupakan bahagian dari masyarakat itu. Definisi menurut Max Weber dan Robert MacIver hampir senada dengan Harold Laski.

Negara jauh lebih kompleks dibandingkan dengan masyarakat. Harold J. Laski mendefinisikan masyarakat sebagai "sekelompok manusia yang hidup bersama dan bekerjasama untuk mencapai tercapainya keinginan-keinginan bersama". Berdasarkan definisi tersebut, negara adalah metamorfosis lanjutan dari suatu bentuk masyarakat yang memerlukan instrumen undang-undang yang bersifat memaksa sehingga keinginan-keinginan tersebut tidak saling memukul antara satu sama lain. Dalam konsep Kontrak Sosial (Contract du Social), penguasa "dikontrak" oleh rakyat untuk menjaga dan mengatur kepentingan-kepentingan mereka.

Dalam kitab al-Fikr al-Islami, Dr. Muhammad Ismail mengajukan 3 (tiga) kriteria yang harus dipenuhi agar suatu masyarakat dapat disebut sebagai masyarakat yang utuh, iaitu adanya pemikiran yang sama (afkar), perasaan yang sama (masya’ir), dan undang-undang yang diterapkan di tengah masyarakat tersebut (nizham). Jika salah satu kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka masyarakat tersebut tidak layak disebut sebagai masyarakat walaupun jumlahnya ratusan ribu; seperti penonton bolasepak di stadium yang memiliki keinginan yang sama (ingin menonton bola) tetapi tidak diikat oleh peraturan yang sama sehingga masing-masing dapat berbuat sekehendak hatinya.

Berikut ini adalah beberapa fakta yang membuktikan bahwa yang dibentuk oleh Rasulullah saw di Madinah adalah sebuah negara:

1. Rasulullah saw menerima bai’ah sebagai Ketua Negara, bukan sebagai Nabi.

    Pengakuan seorang Islam kepada kenabian Muhammad saw adalah dengan ucapan dua kalimah syahadah, bukan dengan bai’ah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra yang berkata:

    "Kami dahulu, ketika membai’ah Rasulullah saw untuk mendengar dan menaati perintah beliau, beliau selalu mengatakan kepada kami: Fi Mastatha’ta’ (sesuai dengan kemampuanmu)"

    Bai’ah ini adalah pernyataan ketaatan kepada seorang Ketua Negara, bukan sebagai seorang Islam kepada Nabinya. Buktinya adalah penolakan Rasulullah saw terhadap bai’ah seorang anak kecil yang belum baligh, iaitu Abdullah bin Hisyam. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Uqail Zahrah bin Ma’bad bahwa saudaranya, Abdullah bin Hisyam, pernah dibawa pergi oleh ibunya, iaitu Zainab binti Humaid, menghadap Rasulullah saw. Ibunya berkata: "Wahai Rasulullah, terimalah bai’ahnya." Kemudian Nabi saw menjawab: "Dia masih kecil." Beliau kemudian mengusap-usap kepala anak kecil itu dan mendoakannya.

    Jika bai’ah itu berfungsi sebagai pengakuan atas kenabian Muhammad saw, beliau tidak mungkin menolaknya walaupun datang dari seorang anak kecil yang belum baligh kerana syariat Islam menggariskan bahwa seorang anak telah terkena kewajipan agama iaitu membayar zakat yang ditanggung oleh orang tuanya.

    Dengan demikian jelaslah bahwa Rasulullah saw memegang jabatan Ketua Negara selain kedudukannya sebagai Nabi.

2. Rasulullah saw sebagai Ketua Negara mengirim surat kepada penguasa negara-negara besar untuk tunduk di bawah kekuasaan Islam.

    Tidak mungkin suatu masyarakat biasa memiliki strategi politik untuk meluaskan pengaruhnya ke wilayah-wilayah sekitar, yang hanya dapat dilakukan oleh suatu negara yang memiliki kepentingan luaran yang dirumuskan dalam strategi politik luar negerinya.

    Isi surat Rasulullah saw tersebut adalah:

    "Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim. Dari Muhammad bin Abdullah dan Rasul Allah, kepada Heraklius pemimpin Romawi. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada siapapun yang mengikuti petunjuk. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Masuklah Islam, niscaya Allah akan melimpahkan pahala kepada Anda dua kali ganda. Namun jika Anda berpaling maka Anda akan menanggung dosa rakyat Irisiyin." (HR Bukhari dalam Shahih Bukhari, juga al-Bidayah IV/226)

    Surat senada juga disampaikan kepada Kisra (Raja Persia), Muqauqis (Raja Mesir), Najasyi (Raja Ethiopia), al-Harith al-Ghassani (Raja Hirah), dan al-Harith al-Himyari (Raja Yaman). Seruan ini bukan sekadar seruan moral untuk memeluk Islam, tetapi juga seruan politik untuk menggabungkan wilayahnya di bawah kekuasan Islam walaupun dengan jalan perang. Rasulullah saw pernah mengirim surat kepada Uskup Najran yang isinya:

    "Atas nama Tuhan Ibrahim, Ishaq, dan Yakub, dari Muhammad, Nabi dan Rasul Allah, kepada Uskup Najran. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada kalian. Aku mengajak kalian untuk memuji Tuhan Ibrahim, Ishaq, dan Yakub. Amma ba’d.

    Aku mengajak kalian untuk menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan kepada hamba. Aku mengajak kalian kepada kekuasan Allah dan meninggalkan kekuasaan hamba. Jika kalian menolak ajakanku ini, maka hendaklah kalian menyerahkan jizyah. Jika kalian menolak untuk menyerahkan jizyah, berarti kalian telah memperkenankan peperangan. Wassalam." (Tafsir Ibnu Katsir I/139, al-Bidayah V/55)

    Jizyah adalah hak yang diberikan Allah swt kepada kaum muslimin dari orang-orang bukan-Islam kerana adanya ketundukan mereka kepada pemerintahan Islam .

3. Adanya undang-undang yang bersifat mengikat dan memaksa.

    Syariat Islam adalah undang-undang, bukan sekadar norma. Tindakan jenayah (jarimah) mendapat hukuman yang dijatuhkan oleh negara walaupun dimensi transendental dalam Islam mengaitkan penjatuhan hukuman tersebut dengan alam akhirat.

    Masyarakat umum sering membayangkan masyarakat Madinah seperti masyarakat feudal dan kasta yang dalam proses menjatuhkan hukuman sosial kepada anggota masyarakat yang melakukan kejahatan ditentukan melalui musyawarah. Yang sering dijadikan dalil adalah ayat al-Qur’an surat an-Nisaa: 159 dan asy-Syura: 38 yang memerintahkan Nabi untuk bermusyawarah mengenai suatu urusan.

    Pengambilan dalil secara sepotong demi sepotong memang mengasyikkan kerana hukum agama dapat dibelok-belokkan sesuai keinginan kita. Tetapi harus diingat bahwa satu ayat tidak dapat terlepas dari ayat lain mahupun teks-teks al-Hadis. Ini berkaitan dengan nasakh-mansukh, takhsis, tabdil, taqyid, dan lain-lain (dapat kita diskusikan lebih lanjut dengan topik "Kodifikasi Undang-undang Islam").

    Rasulullah saw bermusyawarah dengan para Sahabat mahupun dengan penduduk Madinah hanya untuk masalah-masalah yang bersifat mubah/boleh dan tidak menyangkut dengan wahyu. Misalnya ketika Perang Uhud, beliau mengikuti pendapat majoriti penduduk Madinah yang memilih menyambut musuh di luar kota padahal Rasulullah dan sahabat-sahabat besar memilih menyambut dari dalam benteng.

    Untuk hal-hal yang menyangkut wahyu dan ketetapan undang-undang, Rasulullah saw tidak meminta pendapat siapapun selain mengikuti wahyu yang diturunkan kepada beliau.

    "Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku" (QS Yunus: 15)

    "(Dan) tidaklah ia mengucapkan sesuatu berasal dari hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan" (QS an-Najm: 3-4)

    Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw mengabaikan pendapat para Sahabat yang mengajukan protes terhadap kesediaan beliau menerima konsep perjanjian yang ditentukan oleh kaum Quraisy Mekah. Umar bin al-Khatthab menunjukkan rasa kecewanya atas sikap Nabi tersebut, tetapi Rasulullah tidak berganjak sedikitpun kerana sikap politik itu diambil atas perintah Allah swt.

    Dalam kapasitinya sebagai Ketua Negara, Rasulullah saw tidak melakukan perundingan atau tawar-menawar dalam penjatuhan hukuman kepada para pelaku tindakan jenayah. Beliau pernah menjatuhkan hukuman mati kepada Ma’iz al-Aslami dan al-Ghamidiyah yang terbukti melakukan zina. Beliau pernah pula mengusir kaum Yahudi bani Qainuqa’ dari Madinah kerana dengan sengaja menghina kehormatan seorang muslimah dengan menarik jilbabnya hingga terlucut. Semua hukuman tersebut diambil tanpa bermusyawarah atau tawar-menawar dengan siapapun.

    Sebagaimana yang didefinisikan oleh Harold Laski bahwa negara mempunyai kekuatan memaksa, jelaslah bahwa Rasulullah saw menjalankan fungsi sebagai Ketua Negara.

Struktur Negara Islam pertama

Layaknya suatu negara, negara Islam yang dibentuk oleh Rasulullah saw memiliki struktur yang khas dan sistematik. Beliau mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai wakil Ketua Negara. Al-Hakim dan Tirmidzi telah mengeluarkan Hadis dari Abi Said al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda:

"Dua pembantuku dari langit adalah Jibril dan Mikail, sedangkan dari bumi adalah Abu Bakar dan Umar"

Pada masa itu wilayah kekuasaan Islam mencakup seluruh Jazirah Arab. Untuk menjalankan roda pemerintahan di daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan (Madinah), Rasulullah melantik para gabenor untuk memimpin wilayah. Wilayah terbahagi atas beberapa imalah yang dipimpin oleh amil atau hakim.

Rasulullah melantik Utab bin Usaid sebagai gabenor Mekah, Badhan bin Sasan sebagai gabenor Yaman, Muadz bin Jabal al-Khazraji sebagai gabenor al-Janad, Khalid bin Said bin al-Ash sebagai amil San’a, Zaid bin Lubaid bin Tha’labah al-Anshari sebagai gabenor Hadramaut, Abu Musa al-Ashari sebagai gabenor Zabid dan Aden, Amr bin al-Ash sebagai gabenor Oman, dan di dalam kota dilantik Abu Dujanah sebagai gabenor Madinah.

Dalam urusan pengadilan (al-Qadla), Rasulullah saw mengangkat beberapa qadli (hakim). Misalnya Ali bin Abi Thalib sebagai hakim di Yaman, dimana Rasulullah pernah menasihatinya:

"Apabila dua orang yang berselisih datang menghadap kepadamu, jangan segera kau putuskan salah satu di antara mereka sebelum engkau mendengar pengaduan dari pihak yang lain. Maka engkau akan tahu bagaimana engkau harus memberi keputusan" (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Beliau juga mengangkat Muadz bin Jabal sebagai hakim di al-Janad, dan Rashid bin Abdullah sebagai qadli madzalim yang mengadili salahlaku penguasa terhadap rakyat.

Dalam urusan pentadbiran negara (al-jihaz al-idari mashalih al-daulah), Rasulullah melantik Ali bin Abi Thalib sebagai penulis perjanjian, Harits bin Auf sebagai pemegang mohor negara, Huzaifah bin al-Yaman sebagai pencatat hasil pertanian daerah Hijaz, Zubair bin al-Awwam sebagai pencatat sedekah, Mughirah bin Shu’bah sebagai pencatat kewangan dan transaksi negara, dan Syarkabil bin Hasanah sebagai penulis surat diplomatik ke berbagai negara.

Untuk memusyawarahkan hal-hal tertentu, Rasulullah membentuk Majlis Syura yang terdiri dari tujuh orang Muhajirin dan tujuh orang Anshar, di antaranya adalah Hamzah, Abu Bakar, Ja’far, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Salman, Ammar, Huzaifah, Abu Dzarr, dan Bilal.

Untuk posisi panglima perang dipegang sendiri oleh Rasulullah, namun untuk perang-perang sarriyah (tidak diikuti Nabi), beliau melantik orang-orang tertentu sebagai panglima perang, misalnya Hamzah bin Abdul Muththalib, Muhammad bin Ubaidah bin al-Harits, dan Saad bin Abi Waqqash menghadapi tentara Quraisy. Lalu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah menghadapi tentara Romawi.

Demikianlah struktur negara Islam pertama secara garis besar.

 

Bentuk negara Islam

Rasulullah saw bersabda:

"Dahulu bani Israil dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada para Khulafaa dan jumlahnya akan banyak sekali". (HR Bukhari dan Muslim)5

Menurut pengertian bahasa Arab, khulafaa berarti pengganti. Berdasarkan penegasan Rasulullah bahwa tidak ada nabi lagi sesudah beliau, maka pengganti di sini berfungsi menggantikan kedudukan beliau sebagai Ketua Negara. Hal ini diperkuat oleh keputusan Abu Bakar yang menyandang gelaran Khalifatur-Rasulillah (pengganti Rasulullah sebagai Ketua Negara).

Mahmud Abdul Majid al-Khalidi menjelaskan pengertian Khalifah sebagai berikut: "Khalifah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin secara keseluruhan di dunia untuk mendirikan/melaksanakan undang-undang Islam dan mengembangkan dakwah Islam ke seluruh pelusuk dunia".6

Imam Mawardi mengatakan:

"Imamah (atau Khilafah) adalah suatu kedudukan yang diadakan untuk mengganti peranan kenabian dalam urusan memelihara agama (Islam) dan mengendalikan dunia".7

Dalam masalah yang sama, Ibnu Khaldun menyatakan:

"Hakikat Khalifah adalah Shahibus-Syari’ (iaitu seseorang yang bertugas memelihara dan melaksanakan syariat) dalam memelihara urusan agama dan mengelola dunia".8

Tentang bentuk negara Khilafah ini, Rasulullah saw telah menegaskannya dalam Hadis riwayat al-Bazzar:

"...kemudian akan muncul (kembali) Khilafah yang mengikuti jejak kenabian..." 9

Berdasarkan penjelasan di atas, Islam mengenal bentuk negara Khilafah Islamiyyah, baik secara normatif mahupun praktikal sebagaimana yang tercatat dalam lembaran sejarah sejak masa Nabi sampai runtuhnya Khilafah Islamiyyah yang berpusat di Turki pada tahun 1924.

 

Membentuk "Masyarakat Madani"

Generasi Islam masa kini telah dijauhkan dari kekayaan khazanah peradaban Islam sehingga mereka mengalami kesulitan besar untuk memahami konsep kemasyarakatan Islam yang secara normatif diyakini sebagai yang terbaik. Tidak hairan apabila generasi Islam masa kini lebih mengetahui Masyarakat Madinah dengan idiom-idiom yang diketengahkan oleh Barat, seperti demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan beragama, kedaulatan rakyat, sosialisme, dan lain-lain.

Salah satu kesan peracunan Barat (westoxification) terhadap benak kaum muslimin adalah kecenderungan untuk menjauhkan pendekatan hukum dalam kehidupan Islam. Agama Islam dianggap sebagai agama ritual dan cultural.

Kebesaran peradaban Islam tidak dibangun semata-mata melalui pendekatan cultural. Jika pendekatan model ini yang dipakai Rasulullah, niscaya beliau tidak akan memerangi Romawi dan negara-negara lain untuk menundukkannya di bawah kekuasaan Islam. Bahkan sebelum berdirinya negara Islam di Madinahpun para Sahabat sudah dididik dengan hukum-hukum Islam. Anas ra mengatakan:

"Apabila mereka selesai shalat di pagi hari, mereka duduk berkelompok membaca al-Qur’an dan mempelajari hukum-hukum yang wajib dan yang sunat" 10

Hal tersebut dilakukan terang-terangan oleh Nabi dan para Sahabat di depan hidung kaum kafir Quraisy.

Shuhaib meriwayatkan:

"Bahwasanya ketika Umar masuk Islam, kami duduk berkelompok di sekitar Baitullah" 11

Maka jelaslah bahwa Rasulullah saw selalu membina keterikatan para Sahabat dan seluruh kaum muslimin saat itu kepada hukum Islam.

Kecenderungan yang terjadi saat ini adalah penolakan aspek hukum dalam ajaran Islam dan lebih menitikberatkan pada penerapan norma-norma atau yang sering diistilahkan dengan "nilai-nilai Islam". Hal ini diakibatkan oleh sikap lemah dan menyerah dari kaum muslimin terhadap pola kehidupan saat ini. Mereka merasa bahwa situasi saat ini sudah sangat sukar diubah sehingga kekuatan terbaik yang dapat dilakukan adalah menerapkan "nilai-nilai Islam" dalam perjalanan kehidupan bernegara dan bermasyarakat sambil menunggu dan berharap suatu masa nanti pola kehidupan akan ber-evolusi menjadi "lebih Islamik"

Ajaran Islam tidak mungkin dapat diterapkan dengan cara tersebut. Ajaran Islam bersifat unik, berbeda secara diametral dengan ideologi-ideologi besar lainnya (sosialisme dan kapitalisme), serta memiliki hubungan yang erat antara al-fikrah (idea dasar) dengan at-thariqah (tatacara pelaksanaan). Mengambil idea dasar Islam dengan meninggalkan tatacara pelaksanaannya yang telah diatur dalam Islam adalah tindakan sia-sia.

Seperti saat ini, sebahagian kaum muslimin bercita-cita mewujudkan Indonesia Baru sebagai sebuah "Masyarakat Madani", masyarakat berperadaban tinggi yang diadaptasi dari perilaku kehidupan Negara Islam pertama yang berpusat di Madinah. Nurcholish Madjid mencirikannya dengan tiga kata serangkai: adil, terbuka, demokratik. Tapi pertanyaan besar segera muncul: apakah adil itu? Apakah terbuka itu?

 

Apakah Demokrasi

Sampai di sini, sebahagian ilmuwan Islam terjebak pada stereotype Barat tentang keadilan, keterbukaan, dan demokrasi. Gambaran masyarakat Barat masa kini ditolak segala kekurangannya diambil sebagai contoh ideal cita-cita "Masyarakat Madani". Mulai dari Kongres Amerika Syarikat yang mampu mengimpeach presiden, sampai tabiat penduduk kota Toronto yang membiarkan burung-burung merpati bebas berkeliaran di taman kota. Semuanya dipaparkan dengan gambaran masyarakat Islam di negeri-negeri Islam masa kini yang miskin, bodoh, terkebelakang, dan selalu terlibat dengan konflik dalaman mahupun luaran dari masa ke masa.

Inilah hasil dari suatu proses berfikir yang tidak utuh: meletakkan idea dasar di satu sisi dan tatacara pelaksanaan di sisi lain. Kaum muslimin tiba-tiba terlupa tatacara Islam untuk mewujudkan suatu masyarakat yang beradab. Kaum muslimin menjadi hilang kepercayaan dirinya bahwa agamanya memiliki risalah lengkap dalam menyelesaikan permasalahan umat manusia; bukan hanya dalam norma dan nilai-nilai tetapi bahkan sampai pada perlaksanaannya.

Idea tentang keterbukaan, misalnya. Dalam sistem Islam, rakyat didorong untuk berani melakukan teguran terhadap kekeliruan dan kezaliman penguasa. Rasulullah saw bersabda:

"Ketahuilah, demi Allah, hendaklah kalian melakukan amar ma’ruf nahi munkar, mencegah penguasa melakukan kezaliman, memaksa mereka agar mengikuti kebenaran (syariat Islam), dan membatasinya dengan hanya melaksanakan kebenaran saja" (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)12

Islam memberi kedudukan mulia terhadap seseorang yang berani menegur penguasa. Rasulullah saw bersabda:

"Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muththalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim, lalu ia menyuruhnya berbuat baik dan mencegahnya berbuat mungkar, lalu penguasa itu membunuhnya (kerana marah)" 13

Sebaliknya, Islam mencela orang yang takut melakukan teguran terhadap penguasa. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah Hadis Qudsi:

"Allah swt pada Hari Kiamat akan bertanya kepada orang yang tidak berani menyampaikan kebenaran: ‘Apakah yang membuatmu tidak mahu mengucapkan (kebenaran) terhadap keadaan ini dan itu?’ Orang tersebut menjawab: ‘Kerana takut (kemarahan) masyarakat!’ Maka (Dia) berfirman: ‘Akulah yang lebih baik kamu takuti!’ " 14

Islam merupakan agama langit yang diturunkan untuk penghuni bumi sehingga Islam tidak membiarkan perintah-perintah di dalamnya setakat persoalan moral. Islam menempuh pendekatan hukum, memberikan reward dan punishment yang nyata di dunia selain pahala dan siksa di akhirat. Untuk masalah teguran terhadap penguasa, Hadis-Hadis yang mendorong kaum muslimin melakukan teguran terhadap penguasa tersebut ditunjangi oleh instrumen undang-undang, iaitu Mahkamah Mazhalim yang bertugas mengadili kezaliman penguasa Islam terhadap rakyatnya (Islam dan bukan-Islam). Mahkamah ini berhak memecat Khalifah jika kezalimannya sampai pada tingkat tertentu.

Inilah ciri khas pendekatan Islam dalam mewujudkan masyarakat dan negaranya. Islam bukanlah ajaran agama yang penuh dengan nasihat-nasihat dan anjuran-anjuran belaka. Orang tidak akan menjadi baik dengan hanya disuapi nasihat dan petua. Lihat, berapa banyak juru dakwah yang dihasilkan oleh pondok-pondok di Indonesia. Kehebatan berpidato dijadikan suatu pertandingan dan ukuran kehebatan. Para khatib berlomba-lomba menirukan logat Zainuddin MZ, Da’i Sejuta Umat (Rupiah?). Cak Nur berkali-kali menulis buku dan muncul di semua media massa selama bertahun-tahun. Tetapi bangsa ini tidak berubah; tingkat korupsi tertinggi di Asia, birokrat yang zalim terhadap rakyatnya sendiri, rakyat yang keras dan tidak mengenal kasih-sayang terhadap sesamanya, dan lain-lainnya yang terlalu banyak untuk diungkapkan di sini.

Orang dapat menjadi baik jika dia hidup dalam suatu sistem yang baik. Suatu sistem yang memberi ganjaran untuk prestasi kebaikan dan memberi hukuman untuk tindakan jenayah. Seorang pembunuh yang ditempatkan di dalam sistem yang menetapkan hukuman qishash (nyawa dibayar nyawa) pasti berfikir sejuta kali untuk mengulangi perbuatannya. Tetapi seorang pembunuh, biarpun diceramahi seribu pendakwah, selama dia hidup di tengah masyarakat dan sistem undang-undang yang menyediakan ruang terhadap pembunuhan, dia pasti akan mengulangi perbuatannya itu.

Rasulullah saw tidak berceramah kepada satu per satu penduduk Madinah. Dari ribuan penduduk Madinah, yang berbai’ah terus kepada beliau hanya puluhan orang (Bai’ah Aqabah I dan II), dan harus diingat bahwa penduduk Madinah tidak semuanya orang baik; ada pencuri, penzina, orang munafik, bahkan para pengkhianat negara. Rasulullah menempuh cara praktikal untuk menciptakan masyarakat yang baik, iaitu dengan penerapan undang-undang Islam yang mengikat seluruh warga negara (Islam dan bukan-Islam).

Pendekatan sistem adalah pendekatan yang paling efektif dalam rangka mewujudkan cita-cita suatu masyarakat atas dasar ideologi tertentu. Walaupun diawali oleh pendekatan cultural dan personal, finishing touch suatu perubahan selalu ditempuh melalui pendekatan sistem. Kita dapat menarik pelajaran dari Revolusi Perancis dan Revolusi Bolshevik. Sebelum kedua revolusi besar yang mengubah dunia itu meletus, di tengah masyarakat beredar idea-idea besar tentang gambaran suatu masyarakat ideal yang ditulis oleh para cendekiawan masa itu. Ketika kesedaran masyarakat sudah terbentuk mahu tidak mahu - terjadi perubahan sistem secara radikal yang akhirnya mengubah peta geopolitik dan geoculture dunia; dan idea-idea besar hasil pemikiran Montesquieu, Rosseau, Marx, Lenin, menemukan bentuk praktikalnya dan tidak berhenti pada tataran idea belaka.

Masyarakat Islam adalah masyarakat undang-undang, masyarakat yang ketundukannya hanya kepada Musyari’ (Pencipta Undang-undang) iaitu Allah swt, yang demi ketundukan itu seseorang berani melakukan teguran terhadap penguasa. Masyarakat Islam adalah Negara Islam kerana di dalamnya berlaku undang-undang yang mengikat seluruh warga negara, iaitu Undang-undang Islam.

Dalam Negara Islam, nilai-nilai keadilan, keterbukaan, dan lain-lain, akan tumbuh di atas landasan undang-undang. Orang berbuat adil kerana menyedari hal itu sebagai kewajipan, bukan semata-mata sebagai suatu nilai moral dan akhlak. Keadilan dalam sektor ekonomi akan terwujud hanya dengan penerapan undang-undang ekonomi Islam yang mengatur barang tambang dan harta awam sebagai milik umat, bukan milik suatu perusahaan atau anak penguasa. Walaupun Cak Nur lelah menulis buku, keadilan ekonomi tidak akan terwujud jika sistem ekonomi saat ini masih dipakai, yang mengizinkan sumberdaya alam yang tak terbatas menjadi milik perorangan atau keluarga (dengan dalih sistem ekonomi "kekeluargaan").

Miskinnya pengetahuan tentang gambaran Negara Islam (termasuk Masyarakat Islam) hendaklah jangan menjadi alasan untuk mencampur-adukkan cita-cita Masyarakat Madani dengan gambaran masyarakat Barat yang "sedemikian beradabnya" menurut pandangan sebahagian intelektual Islam. Hendaklah kita bersama-sama melakukan tafaqquh fiddiin (mengkaji kembali ajaran Islam) secara serius dengan fokus utama pada pengkajian instrumen-instrumen kenegaraan dan kemasyarakatan Islam yang telah berlangsung selama 13 abad di bawah sistem Khilafah Islamiyyah.

Wallahu a’lam.

 

*) Penulis adalah alumnus FMIPA-UI, dosen, dan pengamat masalah sosial-politik Islam
E-mail: ahmad_sajeed@email.com

1 Imam Syaukani, Nailu al-Authar VIII/197
2 Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim XII/229
3 Abdul Qadim Zallum, Dimuqrathiyah Nizham Kufr, hal. 48
4 Taqiuddin an-Nabhani, Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, 1953
5 Shahih Bukhari, Hadis no. 3455; Shahih Muslim, Hadis no. 1844
6 Mahmud Abdul Majid al-Khalidi, Qawa’id Nidhamul Hukm fil Islam, hal. 229-230
7 Imam Mawardi, al-Ahkaamush Shulthaniyah, hal. 5
8 Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hal. 159 pasal 25
9 Yusuf an-Nabhani, al-Fath al-Kabir III; Musnad Imam Ahmad IV/273; Musnad Abu Daud ath-Thayalisi, Hadis no. 438;Majma’uz Zawaid V/189
10 Majma’uz Zawa’id I/32
11 Sirah al-Halabiyah II/21
12 Sunan Abu Dawud, Hadis no. 4336, Sunan at-Tirmidzi, Hadis no. 3050, Sunan Ibnu Majah, Hadis no. 4006
13 Al-Hakim an-Naisaburi, al-Mustadrak III/195; Imam ath-Thabrani, al-Mu’jam ash-Shaghir I/264
14 Sunan Ibnu Majah, Hadis no. 4008

 

Kembali